MORFOLOGI SEBUAH PENGANTAR[1]
oleh
Lailatul Qomariyah, M.PdI
Ilmu bahasa(Linguistik/
Ilmu Lughoh) secara singkat dapat dijelaskan sebagai ilmu yang mempelajari
seluk beluk bahasa secara ilmiah. Seperti halnya pada ilmu-ilmu lain, Ilmu
Bahasa bersifat umum, maksudnya tidak terikat dengan bahasa tertentu. Namun,
berdasarkan bahasa yang dipelajari ilmu bahasa dapat dibedakan menjadi ilmu
bahasa Jawa, ilmu bahasa Arab, ilmu bahasa Inggris, ilmu bahasa Indonesia dan ilmu bahasa
lainnya.
Selain berdasarkan
bahasa yang dipelajari, Ilmu Bahasa dapat dibedakan berdasarkan struktur
internnya. Berdasarkan struktur internnya, Ilmu Bahasa dapat dibedakan menjadi fonetik/fonologi(ilmu aswat), morfologi(as-sorfu),
sintaksis(an-nahwu) dan semantik (ilmu dalalah). Fonetik mempelajari bunyi bahasa terlepas dari fungsi bunyi
bahasa sebagai pembeda arti. Fonologi mempelajari bunyi bahasa sebagai
pembeda arti. Morfologi mempelajari seluk beluk struktur kata. Sintaksis
mempelajari seluk beluk struktur frase, klausa, kalimat, wacana, dan Semantik mempelajari
seluk beluk arti.
Pengertian, Kajian Dan Objek
Morfologi adalah studi tentang beberapa
morfem dan susunannya dalam membentuk kata (Nida, 1974:1). Menurut Crystal
(1980: 232-233) morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau
bentuk kata, utamanya melalui pembentukan morfem. Menurut Bauer (1983: 33)
morfologi membahas struktur internal bentuk kata.
Morfologi pada
umumnya dibagi dalam dua bidang: yakni telaah infleksi (infleksional
morphology/Laahiqoh), dan telaah pembentukan kata (lexical derivasional
morphology). Morfologi Infleksional membahas berbagai bentuk leksem(Shigotun
Nahwiyah Kaamilah) misalnya penanda jamak, dual (tasniah), penanda
takrif (kekhususan), penanda gender, Sedang pembentukan kata membahas
leksem-leksem baru dari morfem tertentu. Pembentukan kata dapat dibagi menjadi
derivasi dan pemajemukan. Derivasi berurusan dengan pembentukan kata
baru melalui proses afiksasi (ziyadah), sedang pemajemukan membahas
pembentukan leksem baru dari dua atau lebih
stem(ashlu) potensial.
Derivasi adalah
proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru, sedangkan infleksi
pembentukan kata-kata yang berbeda dengan paradigma yang sama. Pembentukan
derivasi bersifat tidak bisa diramalkan, berdasarkan kaidah sintaktik, tidak
otomatis, tidak sistemik, bersifat opsional, serta mengubah identitas leksikal.
Sedangkan pembentukan infleksi bersifat teramalkan (predictable),
otomatis, sitemik, konsisten, dan tidak mengubah identitas leksikal (Katamba,
1993: 92-100).
Berdasarkan uraian
diatas maka bisa disimpulkan bahwa kajian dan objek dari ilmu morfologi/ shorof
adalah kata.
Penutup
Demikian sebuah pengantar singkat tentang morfologi
semoga bermanfaat bagi perkembangan studi ilmu bahasa khususnya bahasa Arab
yang selama ini masih mempertahankan penerapan pembelajaran morfologi
tradisonal sehingga pembelajar hanya mampu menghafal dan masih sulit mengupas
kajian-kajian morfologi secara mendalam dan secara ilmiah
RUJUKAN
Ali, Ma’sum. Amsilatu Tasrifiyah. Surabaya: Maktabah Shaih
Salim Bin As’ad Nabhan.
Al-Qodir, Abdul. 2002. Ilmu Lisaniyat al-Hadithah. Amman-Jordan:
Daru Safa.
Bauer, Laurei.1988.
Introduction Morfologi Lingustic. : Edinburg: University Press.
Crystal.1980. A First
Dictionery Of Linguistics And Phonetics.Colorado: Westview Press.
Ibnu Uthman, Ali. -. Talhisus Asas. Semarang: Toha Putra
Katamba, Franchis. 1993.
Modern Linguistic Morphology. London: The Macmillan Press Ltd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar